Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label PESANTREN. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Karateristik Pondok Pesantren Menurut Para Ahli

Karateristik Pondok Pesantren Menurut Para Ahli


Berangkat dari telaah definitive tentang pesantren di atas, ada satu hal yang disepakati para pakar khususnya dalam tinjauan histories, bahwa pesantren adalah salah satu bentuk kebudayaan asli (indegenous culture) Indonesia. Dan pondok pesantren merupakan bentuk pendidikan Islam tertua Indonesia yang khas. hal ini dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi obyek penelitian para sarjana yang mempelajari Islam di Indonesia. Maka tidak heran bila pesantren dikatakan sarat dengan aneka pesona, keunikan, kekhasan, karateristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh institusi lainnya.

Pondok pesantren (pondok pesantren) merupakan pendidikan Islam yang unik, sebab sifat kulturalnya yang tradisional tetap dapat eksis di era modern. Oleh karena itu, untuk memahami stereotype  pondok pesantren, KH. Yusuf Hasyim melihat kekhasan pesantren-pesantren secara fungsional sebagai institusi yang meliputi fungsi pendidikan, dakwah, kemasyarakatan dan bahkan perjuangan (sejak zaman kolonial). Selanjutnya Mukti Ali mengidentifikasi beberapa karateristik yang menjadi ciri kahas pesantren sebagai berikut:

1.    Adanya hubungan yang akrab antara Kiyai dan santri, hal ini karena mereka tinggal di pondok

2.    Tunduknya santri pada Kiyai.

3.    Hidup hemat dan sederhana benar-benar dilakukan di pesantren

4.    Semangat menolong diri sendiri amat terasa dan kentara di kalangan santri di pesantren.

5.    Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan mewarnai pergaulan di pondok pesantren.

6.    Kehidupan berdisiplin sangat ditekankan dalam kehidupan pesantren.

7.    Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan adalah salah satu pendidikan yang diperoleh santri di pesantren.

8.    Kehidupan agama yang baik dapat diperoleh di pesantren.

Senada dengan hal itu, Alamsyah Ratu Prawiranegara juga mengemukakan kekhasan pesantren sebagai berikut:

1.    Berdiri sendiri, pondok pesantren selalu berdasarkan pada kemampuan sendiri.

2.    Pimpinan yang tunggal, kiyai sangat besar pengaruhnya terhadap diri santri (kehidupan).

3.    Sistem hidup bersama, hal ini menggambarkan kerukunan antar warga pondok pesantren.

4.    Sifat kegotong royongan.

5.    Motivasi yang terarah, para santri yang biasanya berasal dari keluarga yang taat beragama adalah mereka yang sadar ingin memperdalam ilmu agama.

Kedua identifikasi karakteristik pondok pesantren di atas, hanya melihat dari aktifitas dan kegiatan sehari-hari penghuni pondok pesantren. Lain halnya dengan Imam Bawani, menteorikan ciri khas pesantren dalam kacamata sistem dan falsafahnya, adapun ciri khas menurut dia ialah:

a.    Falsafah pesantren berciri ahlu sunnah wal jamaah bersifat tradisi

b.    Kurikulum pesantren hanya seputar ilmu-ilmu agama

c.    Metode pengajaran pesantren yang klasikal

d.    Sarana pesantren yang pada umumnya sederhana

e.    Lingkungan pesantren kebanyakan daerah pedesaan

f.     Hubungan antara kiyai dan antara santri membentuk jalinan geneologi intelektual erah kekerabatan.

Berbagai karakteristik atau ciri khas pondok pesantren di atas menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam ini merupakan pengembang Islam secara cultural, mengakar, dan pada umumnya sasaran binaannya adalah masyarakat grass root karena ditinjau dari sisi geografis bahwa pesantren kebanyakan pula di pedesaan. 

Akan tetapi, lewat perkembangan masyarakat baik secara kultural maupun peradaban, menuntut dan mendesak lembaga-lembaga pendidikan Islam merespon kemajuan tersebut. Pondok pesantren- salah satu lembaga pendidikan Islam- melakukan perbaikan dari segi suprastruktur maupun infrastruktur, dengan mengakomodir tuntutan global di samping mempertahankan nilai-nilai tradisional ajaran Islam. Dengan demikian, pondok pesantren banyak berdiri di daerah perkotaan mengingat fasilitas dan sarana lebih mendukung di daerah tersebut.

Baca Juga:
SISTEM PONDOK PESANTREN  

Pengertian dan Esensi Sumber Daya Manusia Pesantren

thumbnail

Peranan Sumber Daya Manusia dalam Kehidupan

Peranan Sumber Daya Manusia dalam Kehidupan


Manusia dalam menghadapi ‘pergulatan’ hidup hanya semata-mata untuk mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan eksistensi suautu perjuangan yang berat dan kompleks, karena menghadapi tantangan di segala dimensi kehidupan. Manusia yang memiliki potensi besar, mampu beradaptasi dengan zaman dan alam, dapat memahami bahkan sanggup merubah situasi dan kondisi untuk disesuaikan dengan dirinya. Dengan kekuatan sanggup mengubbah dunia, telah terimplikasi bahwa manusia melakukan perubahan, dari perubahan yang bersifat transformatif menuju pembangunan dan dari pembangunan meretaskan kebudayaan, dan dari kebudayaan tersebut melahirkan peradaban.


Dalam mencapai hal tersebut, selaku pengelola (khalifah) di alam jagad harus yang berkualitas, baik dalam tataran ideal maupun realita.


Pernyataan di atas menegaskan bahwa manusia unggul dan berkualitas merupakan titik sentral dari dan dalam pembangunan. Orientasi pembangunan yaitu mengembangkan pribadi yang menyatu dengan tujuan manusia, yang tidak lain dari mengembangkan potensinya untuk ikut serta dalam membangun masyarakat itu dalam serba keserasian yang semakin meningkat sesuai dengan tahapan pembanguna.

Secara fundamental, pembangunan senantiasa melahirkan aksentuasi pada pengembangan potensi manusia, yaitu suatu sikap orientasi manusia dan masyarakat maju serta mandiri yang berorientasi kepada amal perbuatan (action eriented) yang melahirkan manusia  berkualitas, berprestasi, bertujuan, dinamis, dan progresif.

Orientasi usaha manusia sebagaimana yang dijelaskan di atas, menjadi piranti dalam berdialektika dengan arus pembangunan. Pencapaian usaha tersebut ditunjang oleh komitmen moral manusia sebagai factor kehidupan. Ketika komitmen kemanusiaan terus konsisten terhadap system nilai yang menjadi platform dalam beraktivitas, maka setiap usaha manusia akan selalu bermuara pada perbaikan dan pengembangan kehidupan, khususnya di kalangan umat yang berideologi Islam. Apapun potensi yang dimiliki oleh manusia, terakumulasi dalam sumber daya yang bersifat visioner yakni berorientasi ke masa depan.

Pengembangan sumber daya manusia ditujukan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat yang sekaligus akan meningkatkan martabat dan derajat umat kepada satu pada posisi bukan hanya tinggi melainkan bertanggungjawab untuk kepentingan pembangunan umat Islam. Jadi dengan adanya sumber daya manusia yang unggul akan mengantarkan umat yang bermartabat dan memiliki derajat yang mulia. Tinggi rendahnya reputasi seseorang sangat dipengaruhi oleh peran sumber daya manusia dalam kehidupannya. Karena rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan penyebab pengangguran dan kemiskinan secara ekonomi. Sebaliknya kemiskinan adalah salah satu sebab utama rendahnya mutu sumber daya manusia. Antara sumber daya manusia dan kemiskinan merupakan vicious circle atau lingkaran syaitan. 

Memang demikian halnya bahwa potensi perkembangan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi – bahkan ditentukan – oleh sumber daya manusianya, yaitu jumlah serta tingkat ketrampilan, pandangan budaya, sikap terhadap kerja, dan keinginan untuk meningkatkan diri. Tidak bisa dipungkiri bahwa cara pandang terhadap pentingnya pengembangan dan peningkatan ekonomi merupakan  transliterasi dari doktrin cultural, etos kerja dan komitmen moral serta anjuran normativitas dan historisitas.

Pandangan yang berpendapat bahwa, sumber daya manusia yang berkualitas mampu mengubah dunia sesuai dengan kepentingannya. Integritas kepribadian sangat urgen dalam mengontrol setiap aktivitasnya. Dengan sumber daya yang ada akan membawa manusia kepada fithrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi sesuai dengan aturan Allah Swt dan Rasul-Nya, seperti manusia mempunyai sifat amanah, sifat kepedulian dengan masyarakat, mempunyai pengetahuan untuk memberikan jasa dalam menganggulangi kesengsaraan serta bersifat amar ma’ruf nahi munkar.

Oleh karena itu, bagi orang yang memiliki sumber daya manusia, niscaya Allah Swt. akan mengangkat derajatnya sebagaimana dalam firman-Nya dalam QS. Al-Mujadalah (58) : 11, yang berbunyi sebagai berikut :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…
Artinya : “ Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat”
 
thumbnail

Pengertian dan Esensi Sumber Daya Manusia Pesantren

Pengertian dan Esensi Sumber Daya Manusia
Wacana sumber daya manusia (SDM) merupakan suatu terminology  yang tidak akan pernah ‘basih’ untuk diperbincangkan, diperdebatkan, didialogkan dan dikaji. Adapun konteks dan bentuknya tetap ‘hangat’ diperbincangkan, karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan. Kehidupan dalam arti mempertahankan dan mengkonstruksi eksistensi, agar dalam mengaktualisasikan sejarah senantiasa survival.Sumber daya manusia menjadi spketrum dalam mengembangkan semangat pembangunan, baik secara individual, komunal maupun dalam berbangsa dan bernegara.

Secara filosofis, pemeran utama dalam pembangunan adalah manusia. Sukses tidaknya suatu pembangunan tergantung kepada manusianya selaku ‘aktor’ yang berperan di dalamnya. Masalah sumber daya manusia merupakan salah satu permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara yang sedang berkembang seperti Indonesia dalam rangka pembangunan negaranya. Hal ini dapat dilihat dalam negara yang sudah maju. Seluruh potensi dapat dikembangkan dan dikelola sehingga menjadi produktif. Kreativitas penduduk menunjukkan proyeksi dari sumber daya manusia yang ditopang oleh sains. Kelebihan negara maju terletak kepada kemampuan mereka menghasilkan produk baru yang dapat bersaing di pasar local maupun global, dengan cara menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pengembangan inovasi.

Secara sosiologis, sumber daya manusia bagian dari individual dan komunal yang harus digali dan dikembangkan agar dapat berguna bagi pembangunan kehidupan sosial. Olehnya itu, setiap orang telah dan mungkin menjadi sumber yang berguna bagi masyarakat dan negara. Dengan kata lain, setiap individu dalam masyarakat tanpa melihat umurnya bias menjadi sumber daya yang berguna. Diskursus tersebut mengilustrasikan bahwa tanpa memandang stratafikasi sosial, baik dari segi umur, jenis kelamin, bakat maupun profesinya dan segala sumber dapat dipandang sebagai asset bila berguna bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, sumber daya manusia adalah bagian atau porsi penduduk produktif yang eksis dalam masyarakat.
                     
Di sisi lain, sumber daya manusia merupakan tipikal kepribadian seseorang. Tipikal kepribadian ini, meretaskan karakter-karakter individu ke dalam tataran budaya yang melahirkan adagium kebudayaan. Motivasi kebudayaan dipengaruhi oleh teologi, adat istiadat, stratum, norma, pendidikan dan sebagainya dalam masyarakat. Cara pandang tersebut merupakan sublimasi dalam kehidupan sehingga memformulasi peradaban. Formulasi peradaban menelorkan paradigma persfektif dalam melohat kosmos sebagai proses transformatif. Perubahan yang beriringan dengan zaman yang terakumulasi dalam perubahan merupakan dialektika sumber daya manusia yang progresif. 

Dialektika kehidupan menginspirasikan proses evolusi. Hal ini dapat dilihat dalam Firman Allah Swt. Surat An-Nahl (16) : 78, sebagai berikut :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Terjemahnya:
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dan tidak mengetahui sesuatu apapun, kecuali diberikan potensi yakni pendengaran, penglihatan dan hati agar kalin bersyukur.”

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa kehidupan manusia mengalami proses evolusi bukan dari segi biologis. Legitimasi Tuhan diamanahkan kepada manusia demikian kuatnya sehingga dibekali potensi-potensi. Dengan potensi tersebut yang dapat membuat makhluk manusia menjadi handal, maka diberikanlah tugas suci sebagai khalifah di bumi. Adapun tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas : “Mewujudkan kemakmuran di muka bumi, keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi dengan cara beriman dan beramal saleh, bekerja sama dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran”.

Hal tersebut cukup rasional apabila Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana dalam Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah (2) : 30, berbunyi :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Terjemahnya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.”

Tugas mengelola alam jagad raya ini dengan menggunakan potensi sepotimal mungkin, Tuhan menyarankan agar lebih meningkatkan kualitas diri untuk mencoba meninggalkan kosmos menuju ke angkasa – seperti pada binatang burung. Ilustrasi ini sebagai indikator pentingnya sumber daya manusia yang handal bukan hanya pada tataran profan tetapi dapat memasuki wilayah transendentil.Untuk lebih tegasnya, perhatikan firman Allah Swt. Dalam Surat Ar-Rahman (55) : 33, sebagai berikut :
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Terjemahnya:
 “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”

Pemaparan di atas menggambarkan bahwa terminology sumber daya manusia bersifat global, dan untuk memberikan interpretasi senantiasa dipengaruhi oleh persfektif idologi seseorang, misalnya persfektif Umat Islam.

Telah diuraikan sebelumnya, bahwa masalah sumber daya manusia merupakan suatu permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara – negara yang sedang berkembang. Sehubungan dengan hal itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hal yang sangat mendapat perhatian. Karena untuk mencapai tujuan pembangunan perlu mobilisasi sumber – sumber daya manusia. Misalnya, di Indonesia, sumber daya manusia mendapat perhatian serius dari pemerintah, sebagaimana menjadi konklusi akhir dalam Sidang Umum MPR tahun 1999, sebagai berikut :

 
thumbnail

Sistem Pendidikan Pondok pesantren


Pengertian “sistem” bisa diberikan terhadap suatu perangkat atau mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian dimana satu sama lain saling berhubungan dan saling memperkuat. Dengan demikian sistem adalah suatu sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Bila kita menggunakan istilah sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren maka tak lain yang dimaksud ialah saran yang berupa perangkat organisasi yang diciptakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang berlangsungdalam pondok pesantren itu.


Sistem pendidikan di pondok pesantren masih belum memiliki kesamaan dasar di luar penggunaan buku-buku wajib (kutubul muqarrarah) yang hampir bersamaan atau di luar materi pelajaran yang berdekatan. Keragaman ini timbul sebagi akibat dari ketidaksamaan dalam sistem pendidikannya, dimana ada pesantren dengan sistem pendidikan berupa tanpa sekolah atau madrasah, ada pesantren yang hanya menggunakan sistem pendidikan madrasah secara klasikal, dan ada pesantren yang menggabungkan antar sistem pengajian dan sistem madrasah secara non klasikal. Pada sistem madrasah non klasikal ini, materi pelajaran diberikan secara berturut-turut dari kitab-kitab lama yang sudah umum terpakai dalam pengajian.

Oleh karena itu,  tidak mungkin ada penyatuan kurikulum di antara pondok-pondok pesantren selama masih adanya perbedaan-perbedaan cukup besar dalam sistem pendidikan yang dianut. Hal ini terlihat pesantren pada umumnya tidak merumuskan tujuan pendidikannya secara rinci, dijabarkan dalam sebuah sistem pendidikan yang lengkap dan konsisten. Namun, secara umum tujuan itu sebagaimana tertulis dalam kitab Ta’lim al-Mua’allim karya Zarnuji. Sebagian pedoman etika dalam pembelajaran di pesantren dalam menuntut ilmu, yaitu menuntut dan mengembangkan ilmu itu semata-mata merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara ikhlas. Sementara ilmu agama yang dipelajari merupakan nilai dasar yang mengarahkan tujuan pendidikannya, yakni membentuk manusia memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam merupakan weltonschaung (nilai dasar) yang bersifat menyeluruh.
 
Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diselengarakanlah pengajian kitab, yang didalamnya terhimpun nilai dasar Islam tersebut sebagai tata nilai. Sejumlah kitab yang ditentukan untuk dipelajari di suatu pesantren dipandang sebagai kurikulumnya. Pemahaman kurikulum ini sejalan dengan pandangan Abuddin Nata, yaitu “sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah / gelar tertentu: Sedangkan kurikulm pesantren meliputi delapan mata pelajaran yang oleh Kuntowijoyo, disebut pengetahuan humaniora pesantren: meliputi bahasa Arab (ilmu alat), fiqh-ushul, tafsir, hadist, adab (sastra Arab), akhlak, tasawuf dan tarikh. Serangkaian mata pelajaran tersebut terdapat dalam berbagai tingkatan kitab yang di dalamnya mengandung dua visi pendidikan yaitu: Pertama, Visi moral yakni pembinaan sikap mental (watak) dam akhlakul karima. Kedua, Visi intelektual yakni pengembangan akal pikiran.
 
Pada sebagian pondok pesantren, sistem penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran makin lama makin berubah karena dipengaruhi perkembangan pendidikan di tanah air serta tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok pesantren itu sendiri. Dan sebagian pondok lagi, tetap mempertahankan sistem pendidikan yang lama.

Dalam realitasnya, penyelenggaraan sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren dewasa ini dapat di golongkan kepada tiga bentuk yaitu:

  1. Pondok pesantren: lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal dimana seorang kiai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab atau ulama-ulama besar sejak abad pertengahan sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut
     
  2. Pesantren adalah lembaga pendidikan danpengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut di atas, tetapi para santrinya tidak disediakan pondok di kompleks pesantren, namun tinggal tersebar di seluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut, dimana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem weton, yaitu cara santri datang berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu.
  3.  Pondok pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandongan, sorongan dan wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun santri kalongan, yang dalam istilah pendidikan modern memenuhi kriteria pendidikan nonformal, serta menyelenggarkan pula pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masing-masing.