Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Kemauan Manusia Dan Kebebasan Dalam Islam


Kemauan Manusia Dan Kebebasan

Oleh sebab asumsi yang mengabaikan faktor kemauan manusia inilah kedua teori tersebut gagal menafsirkan berbagai tingkahlaku manusia. Kedua  teori itu tidak dapat menafsirkan, misalnya, tingkahlaku manusia yang lapar tetapi tidak mau makan, karena sedang berpuasa. Begitu juga tingkahlaku berani mengorbankan nyawa untuk membela suatucita-cita. Sebab segala tafsiran yang dibuat oleh kedua teori tersebut sangat mekanistik, dimana kemauan manusia tidak ada kekuasaan apa-apa. Pendeknya manusia hanyalah salah satu benda dialam ini, seperti  halnya benda-benda lain. Tidak punya keistimewaan.

Keadaan inilah mengajak berbagai ahli teori dalam psikologi di barat untuk mencari prinsip-prinsipnyang lebih kokoh sebagai dasar untuk menafsir tingkahlaku manusia. Mereka beranggapan bahwa manusia adalah makhluk istimewa tidak dapat disamakan dengan mahkluk lain. Oleh sebab itu untuk menyelesaikan masalah manusia, tidak dapat kita bertolak dari mahkluk lain, hewan misalnya. Selama ini segala teori yang diciptakan tentang “ belajar “ (Learning) diambil dari hasil penyelidikan yang dibuat pada hewan. Ingat saja teori pelaziman ( conditioning ) menurut Pavlov yang didasarkan pada penyelidikan pada anjing. Kemudian dijadikan dasar untuk menafsirkan tingkahlaku manusia dalam “belajar"


Aliran kemanusian menganggap manusia sebagai mahkluk istimewa ( unique ) yang mempunyai kemauan dan kebebasan. Dapat berbuat menurut kemauan sendiri tanpa harus tunduk kepada kekuasaan luar, tidak diterministik. Diantara assumsi-assumsi yang menjadi dasar mazhab kemanusiaan dalam psikologi adalah :

Manusia itu bebas dalam batas-batas tertentu

Assumsi ini dianggap hal yang terpenting yang membedakan mazhab ini dari mazhab psikologi yang lain. Sebab mazhab psikoanalisa dan behaviorisme menekankan tentang harus ada kepastian psikologikal ( Psychologikal determinism ). Ini, menurut mereka, sejalan dengan sains fisikal. Sebab kata mereka tanpa kepastian (determinism) susah diadakan ramalan. Tetapi ini dapat dibantah dengan kenyataan bahwa dalam bidang sains fisikalpun, seperti teori kuantiti (quantum theory), sudah timbul keraguan-keraguan terhadap berbagai model tardisional yang digunakan untuk menyatakan undang-undang pokok yang menguasai bidang ini pada abad ke 19 dan paruhan pertama abad ke 20. 


Misalnya kita dapati bahwa teori kuantiti menimbulkan keraguan kita tentang cahaya seperti yang dinyatakan pada perbandingan cahaya ( photon, electron, proton, neutron, dan lain-lain). Pendeknya dapat dikatakan bahwa ahli-ahli fisika hari ini sudah tidak menganggap model-model yang dikemukakan itu sebagai gambaran tentang hakikat ( reality ) yang mutlak, tetapi model-model itu sekedar percobaan yang dapat menolong mereka memahami sususan atau sistim pengalaman yang dialaminya dan berbagai-bagai maklumat yang dikumpulkannya tentang suatu fenomena. Juga mereka sudah tidak menganggap undang-undang ini sebagai pernyataan sebenarnya tentang hakikat yang mutlak ( alam jagat ) dimana kita hidup. Mereka terkadang-kadang menerima dua undang-undang yang berbeda untuk menerangkan fenomena yang serupa ( berenda, 1957 ).

Manusia  itu baik. Dalam hal ini mazhab-mazhab psikologi berbeda pendapat

Psikoanalisa beranggapan manusia egois dan agresif yang tiada memperhatikan kecuali untuk meuaskan keinginannya, terutama dorongan sexnya. Itulah sebabnya ia selalu bertarung dengan masyarakat. Mazhab behaviorisma bersikap netral mengenai pandangannya terhadap manusia. Tergantung pada siapa dan apa yang  dipelajarinya jika ia akan menjadi baik atau buruk. Sedang mazhab kemanusiaan (humanistic) mempunyai pandangan positif terhadap manusia, dan beranggapan bahwa sifat agresif dan egois manusia merupakan tanda-tanda (Sympton) penyakit, yaitu akibat dari berbagai kekecewaan (Frustation) dan pengengkaran terhadap hak manusia  untuk mewujudkan kemanusiaan ( humanness).

Manusia adalah mahkluk hidup yang selalu bergerak

Manusia berkembang terus dalam usahanya untuk mencari yang lebih baik, dan yang lebih baik itu adalah perwujudan kemanusiaan ( self- actualization ). Assumsi ini berbeda daripada yang menjadi dasar psikologi tradisional dimana manusia dianggap benda hidup yang tidak bergerak- balas (respon)kecuali ketika ia berhadapan dengan perangsang ( stimulus ). Jadi aktivitas sekedar sebagai reaksi (  reaction ), terhadap perangsang yang diterimanya.




Juga ahli-ahli mazhab kemanusiaan beranggapan bahwa manusia selalu bergerak dan bertujuan. Artinya, bahwa yang mendorong ia mengerjakan sesuatu adalah keinginannya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Pengalaman

Asumsi ini merupakan konsep utama dalam psikologi kemanusiaan, yang dimaksudkan pengalaman adalah pengalaman individu seklarang dan disini sebagaimana dialaami oleh orang yang mengalaminya, bukan sebagai anggapan orang lain terhadapnya. Mereka berkata bahwa ahli-ahli psikoanalisa yang berusaha menafsirkan tingkah laku orang-orang sakit menurut kandungan bawah sadar sisakit, tidak lain daripada kandungan kesadaran dari pengobat itu sendiri.

Untuk mengetahui sebenarnya kegiatan manusia,

haruslah melalui penelitian terhadap orang – orang sehat. Ini berbeda dengan Freud dan pengikut-pengikutnya yang memperoleh data – datanya dari penelitian terhadap kasus – kasus patologikal.ahli - ahli psikologi kemanusiaan berpendapat sebaliknya, haruslah meneliti orang – orang sehat, orang – orang yang telah mencapai tingkat yang sesuai dalam perwujudan sendiri (self- actualization) atau orang – orang yang hidup dengan tujuan tertentu dalam hidupnya dan lain – lain lagi tanda – tanda kesehatan jiwa.

Dari sini kita lihat bahwa mazhab kemanusiaan menekan kebebasan  manusia untuk menetukan tingkah lakunya. Segala usaha manusia untuk mengabaikan atau meremehkan aspek ini, dalam pembahasan – pembahasan tentang manusia, akan selalui menemui kegagalan, seperti dibuktikan oleh mazhab – mazhab psikologiyang telah diuraikan di atas. Tetapi kebebasan adalah masalah yang diperbincangkan dalam falsafah.  

Kebebasan adalah salah satu hak tabi’I manusia yang tanpa dia manusia itu tidak memiliki keistimewaan dari makhluk – makhluk yang lain. Tanpa kebebasan, segala nilai – nilai yang dilekatkan pada manusia tidak akan ada harganya. Manusia hanya dianggap bermoral kalau ia membuat tindakan dengan bebas atas pilihannya sendiri, bukan paksaan dariluar, termasuk manusia lain dan benda - benda disekelililngnya. Tanpa kebebasan, manusia tidak dapat diharapkan bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Jadi kebebasan termasuk hak – hak asasi manusia, tanpa dia manusia buakn lagi manusia. 

Sebenarnya persoalan kebebasan menjadi persoalan falsafah sepanjang zaman. Juga dalam sejarah pemikiran islam masalah kebebasan sudah banyak diperdebatkan oleh ahli – ahli fikir semenjak abad pertama kebangkitan islam. Malah mengakibatkan timbulnya golongan – golongan pemikir yang berbeda pendapat berkenaan dengan salah satu rukun iman, yaitu tentang qadha dan qadar. Adakah manusia telah ditentukan nasibnya semenjak sebelum lahir, oleh sebab itu menusia tidak punya daya dan upaya untukmerubah nasib itu, oleh karena itu ia disebut dipaksa (majebur)? Inilah pendapat golongan jabariyah. Ataukah manusia boleh berusaha dan berdaya untuk merubah nasibnya, walaupun kekuasaannya iitu terbatas? Inilah pendapat golongan Qadariyah.

Sudah tentu aliran pemikiran yang berbeda tentang salah satu prinsip dasar iman ini, yaitu qadha dan qadar, mempunyai pengaruh pada berbagai aspek kehidupan kaum muslimin. Dalam bidang politik timbul golongan Ahlussunnah waljama’ah dan golongan khawarij. Dalam bidang Fiqh dan perundang – undangan timbul golongan Asy’ariyah dan golongan mu’tazilah. Pendeknya sebab perbedaan pendapat tentang masalah kebebasan ini menyebabkan timbulnya berbagai golongan yang berbeda orientasi dalam berbagai segi kehidupan di kalangan kaum muslimin.


Keinginan manusia berada pada lintasan vertikal kehendak ilahi. Dengan demikian keinginan manusia bergantung kepada kehendak Allah dan tidak dapat mandiri dan tak membutuhkan Allah. Sebagaimana terdapat dalam banyak ayat yang menandaskan hal ini. Misalnya, “Dan kamu tidak dapat berkehendak  kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, tuhan semesta alam.” (QS.Al-Takwir :29)”.

Tentu saja perkara ini, sekali-kali tidak bertentangan dengan kebebasan dan pilihan manusia serta tanggung jawab yang diembannya dihadapan pelbagai pemikiran, niat dan seluruh perbuatannya. Karena manusialah yang berperan sebagai pelaku langsung niat, pilihan dan perbuatannya, dengan memanfaatkan kekuatan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Baca Juga >>> Ruang Lingkup Kekuasaan dan Kehendak Allah
Baca Juga >>> Kekuasaan Allah SWT dan Kehendaknya
 
wallahu a'lam Bisshawab 
thumbnail

Ruang Lingkup Kekuasaan dan Kehendak Allah SWT



Hubungan Antara kekuasaan dan Kehendak Allah SWT


Berkenaan dengan kehendak Tuhan, terdapat pelbagai ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Halnya bukanlah bahwa jika  Allah SWT menghendaki sesuatu, mungkin saja hal itu tidak dilaksanakan –Nya.

Kehendak Tuhan senantiasa efektif, dan ketika pelaksanaan dari sesuatu dikehendaki oleh Allah  SWT, hal itu akan dilaksanakan. Berikut adalah ayat – ayat tentang kehendak Allah, itu:… Allah Swt melakukan apa yang Dia kehendaki  dan… sesungguhnya Allah SWT melakukan apa yang Dia kehendaki.

Allah SWT Tidak Menghendaki yang Mustahil



Dalam Persoalan ini, pelbagai pertanyaan timbul. Misalnya, Dapatkah Allah SWT. Menghasilkan sesuatu yang mustahil atau tidak mungkin? Dapatkah Dia menciptakan Allah lain seperti diri-Nya? Dapatkah Dia memberikan sesuatu yang Dia miliki? Kepada salah satu mahkluknya, sehingga Dia kehilangan segalanya? Dapatkah Dia memasukkan sebuah gunung kedalam Atom atau katakanlah dalam sebutir telur ayam, dan sebagainya. Artinya, Apakah kita mesti membayangkan bahwa makna dari ucapan : Dia mampu melakukan apa saja, adalah bahwa dia harus mampu melakukan hal-hal yang demikian itu, dan jika tidak dapat melakukannya, Kemampuan-Nya, terbatas.

Dengan maksud memberikan jawaban yang logis terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, sebuah penjelasan singkat tentang konsep kemampuan sangatlah diperlukan. Dengan mengatakan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu  atau menciptakan sesuatu, kita memaksudkan bahwa sesuatu  dapat diciptakan atau dilakukan, tetapi memerlukan kekuasaan untuk membawa hal yang dapat diwujudkan dan dilaksanakan. Dengan menggunakan istilah teknis, kita mengatakan bahwa sesuatu yang bergantung pada kekuasaan haruslah sesuatu yang mungkin. Kemampuan berarti melakukan apa yang mungkin dilakukan.

Kesimpulannya adalah bahwa kemampuan tidak meliputi hal yang mustahil “Mungkinkah menciptakan sesuatu yang mustahil?” adalah pertanyaan yang salah, karena bertentangan dengan dirinya sendiri. Jika suatu hal mustahil ada, bagaimana ia diharapkan ada? Dengan kata lain, kemampuan bergantung pada “Sesuatu”, ia adalah “tidak ada”. Jadi, ketika mengatakan bahwa Allah Swt. Dapat melakukan “ segala sesuatu”, kita harus ingat bahwa hal yang mustahil bukanlah “sesuatu”. Sesuatu adalah hal yang dapat ada atau yang mungkin dilakukan.


Disini, pertanyaan lain mungkin diajukan : terdapat banyak hal yang dianggap mustahil dan tidak bergantung pada kekuasaan tetapi kita melihat atau mendengar bahwa mereka telah dilakukan oleh Allah Swt. Misalnya, jika dikatakan bahwa kobaran api yang besar telah diubah menjadi taman bunga yang sejuk, kita akan mengatakan, mustahil! Api membakar bunga, tidak pernah berubah menjadi bunga. Bagaimana mungkin kobaran api berubah menjadi taman bunga? Ini mustahil, tetapi kita betul-betul mengetahui bahwa Allah Swt. Telah mengubah api, tempat nabi Ibrahim As dilemparkan, menjadi sebuah taman bunga. 
Bersambung..........
thumbnail

Sumber- Sumber Akhlak Menurut Agama Islam


Darimana Sumber Akhlak dalam Islam?

Akhlak sebagaimana juga aqidah dan syariah mempunyai nilai-nilai tersendiri, meskipun demikian dia tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Garis-garis akhlak dalam Islam mengandung pokok­-pokoknya saja ia terdiri dari dua, yaitu: "Akhlak sesama makhluk dan akhlak makhluk dengan Khaliknya. Akhlak terhadap makhluk ini juga terbagi kepada akhlak terhadap diri sendiri, masyarakat dan tetangga, serta akhlak terhdap sesama manusia (flora dan fauna)".
Dari penjelasan diatas bahwa manusia selalu memperhatikan dirinya, dan senantiasa bersama untuk menyelamatkan serta memelihara hidupnya agar tetap aman dan bahagia. Berdasarkan reality inilah manusia memenuhi berbagai kebutuhan hidup guna mencapai bahagia dan rasa aman. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak mungkin akan tercapai dan dipenuhi dengan cara hidup sendiri untuk ini ia memerlukan relasi atau hubungan (interaksi) dengan manusia lainnya. Dengan demikian selain sebagai makhluk individu, manusia disebut juga sebagai makhluk sosial, karena itu muncul suatu sifat dan pengertian dan saling memenuhi kewajiban untuk tidak merugikan orang lain. Hal di atas sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al- Qashash  ayat 77  yang  berbunyi sebagai berikut:

وابتغ فيما اتك الله الدارالاخرةولاتنس نصيبك من الد نيا واحسن كما ا حسن ا لله ا لياك ولا تبخ دفي الارض ان الله لا يحب المفسدين (القصص :77)




Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadmu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al-Qashash: 77).

Berdasarkan ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa manusia disamping statusnya sebagai makhluk sosial, dia juga merupakan seorang hamba Allah SWT yang dituntut senantiasa untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain dalam hidupnya ini manusia dituntut untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta wajib berakhlak kepada penciptanya, kepada sesame manusia bahkan kepada alam semesta ini. Imam Al-Ghazali memberi pedoman atau acuan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk diteladani sebagai berikut:

Pentingnya hubungan akhlak dengan iman, dan iman adalah kaedah yang benar, iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran didunia serta keselamatan di akhirat. Masalah akhlak tidak kalah pentingnya dari amalan yang lain, dalam pembinaan harus dapat petunjuk serta nasehat-nasehat secara terus menerus agar dapat meresap dalam hati dan merekat dalam ingatannya, hingga menjadi keyakinan bahwa iman, kebaikan dan akhlak adalah unsur-unsur yang erat kaitanya, tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.

Dalam sebuah Hadist Rasullullah SAW bersabda:


عن ابي هريرةرضي الله عنه ان ر سو ل الله صل ا لله عليه و سام قال: ا كمل ا لمؤ مين ا يمانا ا حسنم خالقا (رواه البيهقي)

Artinya: "Dari Abu Hurairah.ra. Bahwasanya Rasullullah bersabda: Sebaik­baiknya iman orang mukmin yang baik adalah akhlaknya". (HR. Baihaqi).

Dari sabda Nabi diatas, dapat dipahami bahwa manusia yang mempunyai akhlak yang baik akan senantiasa dihargai dan dihormati oleh orang lain maka sebaliknya orang yang mempunyai akhlak yang jahat dia akan dibenci dan tidak akan disukai dalam masyarakat. Sebagaimana dipahami bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna susunannya bila dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Dengan segala unsur yang ada, manusia mempunyai bakat atau potensi untuk meningkatkan statusnya ke taraf yang lebih mulia, apabila potensi itu dikembangan dan dipergunakan sesuai pada tempatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut:

لكد خلكنا الانسا ن في احسن تقويم (التين :4)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik­baiknya. (Q.S. At-Tin: 4).

Dari pengertian ayat diatas membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan oleh Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk yang lain. Meskipun demikian manusia juga mempunyai kecendrungan kearah martabat yang lebih rendah, yaitu hewan. Bahkan lebih rendah lagi, apabila manusia tidak memelihara dan tidak menggunakan potensi jasmaniah dan rohaniah sesuai dengan petunjuk yang sudah Allah berikan.

Dari uraian diatas dapat dibuat kesimpulan bahwa, dasar-dasar pembinaan akhlak telah digariskan dalam firman Allah dan hadist Rasullullah SAW. Manusia sebagai makhluk yang paling sernpurna mempunyai potensi untuk lebih mulia dan juga memungkinkan menjadi makhluk yang paling hina. Kedua hal tersebut ditentukan oleh akhlak manusia itu sendiri. Jika manusia itu memiliki akhlak yang mulia maka ia dapat mengangkat martabatnya keposisi yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT, namun jika seorang manusia mempunyai akhlak yang buruk, maka ia telah merendahkan martabatnya melebihi dari posisi binatang yang paling hina.  

Oleh sebab itu maka umat Islam harus melandaskan sikap dan tingkah lakunya kepada Al-Qur'an dan meneladani akhlak Rasullullah SAW agar mereka dapat hidup bahagia didunia dan akhirat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an merupakan sumber akhlak. Sumber akhlak dalam al-qur'an tercermin dalam sikap dan perilaku Nabi SAW. 

Baca Juga:
Membentuk Moralitas Kaum Remaja Masa Kini

 Dampak Negatif Ketidaksiapan Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pembinaan Anak
thumbnail

MEMBENTUK MORALITAS KAUM REMAJA MASA KINI


PENGERTIAN ETIKA REMAJA
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.




Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata) etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan yang dilakukan oleh sesuatu kelompok masyarakat.

Menurut Poerwadarminta, etika mempunyai arti sebagai  Ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Artinya etika berhubungan erat dengan prilaku dan tingkah laku seseorang. Sedangkan kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai beberapa pengertian sebagai berikut:

Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat;
Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi.




Secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu “kebiasaan atau adab”. Dengan kata lain, kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun”. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda.

Jadi dari berbagai macam pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian etika remaja adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak para manusia yang telah memasuki umur remaja. Adanya etika para remaja sangat dipengaruhi oleh akhlaq para kaum remaja.

Mengenal Karakteristik remaja
Dunia remaja adalah dunia yang sangat berkesan dalam kehidupan manusia, penuh pengalaman dan tantangan. Remaja merupakan masa yang sangat sulit dan masa yang paling menyenangkan. Ada beberapa karekteristik umum yang ada pada diri remaja:

Remaja selalu berusaha mencari cara bagaimana mereka bisa mengahadapi orang lain. Mereka juga akan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Karena remaja ingin memperlihatkan usahanya bagi orang lain sekitarnya.

Remaja mencoba mengerti apa yang orang lain harapkan dari mereka, dan apa pula yang mereka harapkan. Remaja akan mencapai cita-cita dan ingin melakukan sesuatu atas kehidupan mereka. Remaja selalu ingin mendapatkan perhatian dari orang lain.

Remaja berani merefleksi pikiran-pikiran mereka dalam kehidupan nyata karena pada masa remaja, mereka tertarik untuk membuat kesimpulan dari segala fenomena yang timbul dan mereka tertarik serta ingin mengerti hal-hal yang lebih luas dalam kehidupan.

Remaja mengalami hal yang normal terhadap lawan jenis. Pada masa ini mereka tertarik dan melirik lawan jenis untuk dijadikan lebih dari sekedar kawan. Ketertarikan hati ini merupakan kodrat insani dan merupakan fitrah manusia.

Ada tiga hal yang tidak dapat dihilangkan, tetapi hanya dapat diminalisir pada kaum remaja: 

Mudah terpengaruh, ikut trend yang tak jelas asal-usul. Hal ini sering terjadi pada diri seorang remaja karena adanya dorongan untuk memperlihatkan eksistensi mereka walaupun sebenarnya hal itu kurang tepat dilakukan terutama dalam menyesuaikan diri dengan budaya dan lingkungan. Alangkah sedihnya jika remaja terpengaruh dengan budaya-budaya yang melenceng dari ajaran agama karena dapat merusak etika kaum remaja.

Mencoba memanage hidup mereka sendiri dan merasa bangga bila dapat melakukan sesuatu di luar control orang tua. Jadi pada masa ini, ada beberapa keputusan yang tidak mereka sandarkan pada orang tua karena mereka menganggap sudah mampu untuk berdiri sendiri dan merasa malu jika tergantung penuh pada orang lain.

Meningkatnya rasa ego merasa mereka lebih dari orang lain, ingin selalu di depan, tak jarang untuk mencapai ini semua mereka akan melalui jalan yang negatif. Maka hal ini harus ada peran orang tua dalam menyikapi hal tersebut.

Oleh sebab itu Remaja membutuhkan ketrampilan sosial dan kemampuan menyesuaikan diri sangat dibutuhkan saat seseorang berada di masa remaja. Kegagalan remaja dalam memasuki dan menguasai lingkungannya, akan menyebabkan remaja sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
Remaja muslim yang ideal 
Sangat banyak figur-figur manusia ideal yang diungkapkan dalam al-Qur'an dan hadist, antara lain:

Remaja yang gerak geriknya merupakan pancaran dari ajaran Islam. Setiap langkah remaja merupakan aplikasi dari tuntunan agama yang mulia. Gerak-gerik remaja selalu diwarnai dengan etika yang terkandung dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasul.



Remaja yang dapat memetakan langkah hidupnya, memiliki visi dan misi dalam hidupnya yang sesuai dengan ajaran Islam. Mereka selalu merencanakan misi dan visi sebagaimana yang telah dianjurkan oleh ajaran Islam dan tidak pernah bertentangan dengan syariat Islam.

Remaja yang mengenal dirinya sendiri, menjadi suri tauladan bagi yang lainnya. Bila mereka mengenal dirinya maka ia akan mengenal siapa penciptanyaa, yang melahirkannya dan orang yang memberikan pendidikan spiritual kepada diri mereka.

Remaja yang memiliki dasar pendidikan yang baik secara formal ataupun non formal. Pendidikan sangat mempengaruhi etika para remaja. Karena bila seseorang ingin mencapai kebahagiaan, maka manusia tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan agama dan umum.

Remaja yang bersifat terbuka, fleksibel serta kritis terhadap segala informasi dan nilai-nilai baru. Remaja yang ideal memiliki pikiran yang kritis. Segala sesuatu yang datang terhadap dirinya lebih dahulu dicerna, disaring dan dipilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Membangun dasar pengetahuan dan intuisi melalui pendidikan formal dan informal. Karena pengetahuan dan instuisi yang baik akan melahirkan regenerasi yang baik terhadap agama dan bangsa.

Untuk memperoleh hal tersebut pendidikan agama Islam baik formal ataupun non formal harus diberikan kepada anak-anak remaja.